SELAT MALAKA — Di masa revolusi fisik (1945–1949), perairan Sumatra dan Selat Malaka dikepung rapat oleh armada tangguh Kerajaan Belanda. Mereka menerapkan blokade laut yang ketat dengan satu tujuan: mencekik jalur ekonomi dan logistik Republik Indonesia yang baru seumur jagung. Namun, di antara ombak Selat Malaka yang berbahaya, muncul satu nama yang membuat angkatan laut Belanda frustrasi setengah mati. Ia adalah John Lie, pelaut ulung keturunan Tionghoa yang berkali-kali menembus barikade musuh hingga dijuluki "Si Hantu Selat Malaka".[cite: 4]
Lahir di Manado pada tahun 1911, John Lie bukanlah orang asing di dunia maritim. Ia menimba pengalaman bertahun-tahun sebagai pelaut di perusahaan pelayaran kolonial Belanda, KPM (Koninklijke Paketvaart Maatschappij). Namun, ketika Indonesia memproklamasikan kemerdekaan, panggilan jiwa nasionalismenya bergejolak. Ia memutuskan menanggalkan gaji besarnya di KPM dan pergi ke Yogyakarta untuk bergabung dengan Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI). Mengingat keterbatasan kapal perang maklum saat itu, ALRI menugaskan John Lie ke pangkalan di Sumatra dengan misi yang sangat vital sekaligus mematikan: menjadi blockade runner (penembus blokade musuh).[cite: 4]
Untuk menjalankan operasi rahasia ini, John Lie memimpin sebuah kapal cepat (speedboat) jenis Large Baseline (LB) bermesin niaga yang dinamai The Outlaw (PPB 58 LB). Tugas kapal ini menyerupai urat nadi bagi kelangsungan hidup Republik. Pertama, Penyelundupan Keluar: Membawa hasil bumi Indonesia (seperti karet, kopi, dan teh) dari pelabuhan-pelabuhan kecil di Sumatra menyeberangi Selat Malaka menuju Singapura atau Malaya yang dikuasai Inggris. Kedua, Barter Senjata: Hasil penjualan komoditas tersebut tidak dicairkan dalam bentuk uang, melainkan dibarter langsung dengan senjata, amunisi, obat-obatan, dan pemancar radio. Ketiga, Penyelundupan Masuk: Memasok kembali barang-barang militer tersebut ke kantong-kantong gerilya TRI (Tentara Republik Indonesia) di Sumatra guna melawan agresi Belanda. "Kami tidak sekadar membawa barang dagangan, kami membawa napas kehidupan bagi tentara Republik yang sedang bertaruh nyawa di daratan."[cite: 4]
Julukan "Si Hantu Selat Malaka" tidak datang dari kawan, melainkan dari pihak Belanda sendiri yang frustrasi karena kapal John Lie seolah-olah bisa menghilang atau lolos dari situasi yang mustahil secara logika militer. Ada beberapa kisah ikonik yang melekat pada operasional The Outlaw. Salah satunya adalah Taktik Memeluk Badai: Ketika kapal patroli Belanda menggunakan radar canggih untuk memburu mereka, John Lie justru sengaja mengemudikan kapal menembus badai besar atau kabut tebal malam hari demi mengelabuhi pantulan radar musuh.[cite: 4]
Suatu hari di Labuhan Bilik, The Outlaw kedapatan oleh pesawat pemburu Belanda saat sedang kantas karena air surut. Pesawat tersebut memberondong kapal John Lie dengan senapan mesin dan roket. Ajaibnya, bom dan peluru hanya jatuh di sekeliling kapal tanpa satu pun hantaman telak. Kapal berhasil diperbaiki darurat dan lolos begitu air pasang. Di samping kecerdikan taktisnya, John Lie dikenal sebagai sosok Kristen yang sangat taat. Di tengah kecamuk peluru atau saat mesin kapal mati di wilayah perimeter musuh, ia kerap terlihat tenang di anjungan sambil memegang Alkitab di satu tangan dan kemudi di tangan lainnya, memberikan instruksi taktis tanpa kepanikan.[cite: 4]
Setelah perang kemerdekaan usai, John Lie melanjutkan pengabdiannya di TNI AL hingga pensiun dengan pangkat Laksamana Muda (Laksda). Nama baptisnya kemudian disesuaikan menjadi Jahja Daniel Dharma. Beliau wafat pada tahun 1988 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Atas jasa-jasanya yang luar biasa dalam mendanai dan mempersenjatai revolusi Indonesia, pada tahun 2009, Pemerintah Indonesia menganugerahinya gelar Pahlawan Nasional. Untuk menghormati warisan keberaniannya, nama beliau diabadikan sebagai nama kapal perang korvet canggih milik TNI AL, yaitu KRI John Lie (358). Kisah John Lie adalah bukti nyata bahwa cinta tanah air tidak memandang suku, agama, ataupun ras—sebuah teladan kokoh tentang arti kesetiaan pada kibarkan bendera Merah Putih.[cite: 4]