Beranda Koleksi Panduan Berita
Kembali ke Radar

Operasi Lintas Laut Banyuwangi-Bali: Palagan Amfibi Pertama Republik Indonesia

BANYUWANGI - BALI — Sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia tidak hanya tertulis di daratan Jawa. Salah satu babak paling heroik dan signifikan justru terjadi di perairan Selat Bali, melalui sebuah operasi amfibi nekat yang kini dikenang sebagai yang pertama dalam sejarah TNI. Operasi Lintas Laut Banyuwangi-Bali, yang berlangsung pada awal April 1946, adalah bukti keberanian prajurit-prajurit muda Republik dalam menembus blokade laut Belanda demi membela saudara-saudara mereka di Pulau Dewata.

Pascakemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, situasi politik dan militer di tanah air masih jauh dari stabil. Pasukan Sekutu mendarat di berbagai wilayah Indonesia untuk melucuti tentara Jepang, namun sering kali diboncengi oleh NICA (Netherlands Indies Civil Administration) yang berniat mengembalikan kekuasaan kolonial Belanda. Bali, yang strategis sebagai gerbang ke wilayah timur Indonesia dan 'batu loncatan' untuk menyerang Jawa Timur, menjadi target utama Belanda. Pada tanggal 3 Maret 1946, Belanda mendaratkan pasukan dalam jumlah besar di Bali. Di bawah pimpinan Letkol I Gusti Ngurah Rai, Tentara Republik Indonesia (TRI) Divisi Sunda Kecil melakukan perlawanan sengit. Namun, mereka menghadapi keterbatasan personel, senjata, dan amunisi yang kronis. Ngurah Rai menyadari bahwa tanpa bantuan dari Jawa, perjuangan di Bali akan sangat sulit dipertahankan.

Merespons permintaan bantuan dari Bali, markas besar TRI di Yogyakarta segera mengambil tindakan. Jenderal Sudirman memerintahkan pengiriman pasukan dan persenjataan ke Bali. Misi penting ini diserahkan kepada TRI Divisi VIII Jawa Timur, khususnya Resimen 1 Banyuwangi. Maka dibentuklah 'Pasukan-M' atau 'Pasukan Merdeka', sebuah unit ekspedisi khusus yang dipimpin oleh Kapten Markadi, seorang perwira laut yang berani. Pasukan ini terdiri dari gabungan prajurit TRI dari Pangkalan X ALRI Banyuwangi, sukarelawan, dan pelaut lokal. Tujuan operasi ini sangat jelas: menyeberangi Selat Bali, menembus blokade laut Belanda, mendaratkan pasukan dan senjata di pantai Bali, dan bergabung dengan pasukan I Gusti Ngurah Rai untuk memperkuat perlawanan lokal.

Operasi ini adalah sebuah spekulasi tingkat tinggi, mengingat perbedaan kekuatan armada antara Republik yang hanya mengandalkan perahu layar tradisional dan kapal motor kecil, melawan Belanda yang memiliki kapal patroli canggih seperti LCM (Landing Craft Mechanized). Persiapan dan pemberangkatan pasukan dilakukan secara rahasia di Banyuwangi, terutama di wilayah Muncar. Rencana operasi dirancang untuk penyeberangan malam hari agar tidak terdeteksi radar Belanda. Pasukan dibagi menjadi beberapa gelombang pendaratan yang ditujukan ke titik-titik berbeda di pesisir barat Bali.

Malam tanggal 4 hingga 5 April 1946 adalah puncak ketegangan. Sembilan perahu layar ekspedisi, membawa ratusan pasukan dan senjata, mulai bergerak meninggalkan pantai Banyuwangi. Kapten Markadi sendiri memimpin gelombang utama. Di tengah kegelapan Selat Bali, armada Republik dipergoki oleh kapal patroli LCM Belanda. Belanda segera melepaskan tembakan. 'Pertempuran Selat Bali' yang tak seimbang pun meletus. Kapten Markadi tidak gentar. Ia memerintahkan pasukannya untuk membalas tembakan seadanya dengan senapan mesin dan granat sambil terus bermanuver di tengah gempuran meriam LCM Belanda. Dalam momen heroik ini, Pasukan-M berhasil melakukan perlawanan nekat. Keberanian dan taktik gerilya laut mereka membuahkan hasil: satu LCM Belanda berhasil diledakkan dan ditenggelamkan, sementara yang lainnya terpaksa mundur.

Meskipun dihadang, sebagian besar gelombang pasukan Republik berhasil mencapai pesisir Bali. Mereka mendarat di berbagai titik, seperti pantai Yeh Kuning, Cupel, Candi Kusuma, dan Pulukan. Pendaratan dilakukan dengan cepat di bawah ancaman patroli darat Belanda. Meskipun memakan korban, pengiriman bantuan pasukan dan persenjataan berhasil memperkuat TRI Sunda Kecil, memungkinkan Letkol I Gusti Ngurah Rai untuk mengkonsolidasikan kekuatannya dan terus melakukan perlawanan gerilya sepanjang tahun 1946 hingga Puputan Margarana pada November 1946. Operasi ini diakui sebagai operasi lintas laut amfibi pertama dan pertempuran laut pertama dalam sejarah Republik Indonesia pasca-proklamasi, yang kini diabadikan di Monumen Operasi Lintas Laut Jawa-Bali di Cekik, Gilimanuk.

// Data Scan

Kronika Lainnya

Pertempuran Cirebon
5 JANUARI 1947

Mengenang Pertempuran Laut Cirebon dan Keteguhan Kapten Samadikun

Pertempuran Laut Aru
15 JANUARI 1962

Kisah Heroik dan Pengorbanan di Pertempuran Laut Aru

John Lie
MASA REVOLUSI 1945-1949

Kisah John Lie, "Si Hantu Selat Malaka" yang Melegenda